PRESS RILIS WORLD ANIMAL DAY

20161031101634 201610311016222016103110155620161031101609 Minggu pertama di bulan Oktober tepatnya tanggal 4 Oktober merupakan hari besar bagi dunia hewan yang sering disebut dengan Worl Animal Day. Setiap tahunnya, World Animal Day dirayakan oleh orang-orang di berbagai belahan dunia dengan kegiatan-kegiatan inspiratif, contohnya pengadaan kegiatan edukasi dan kepedulian tentang hewan, kegiatan adopsi hewan, pemutaran film di sekolah-sekolah, veterinary treatment camp, konser penggalangan dana, pengobatan hewan gratis, interview radio dan TV, dan masih banyak lagi.

World Animal Day merupakan hari penyatuan gerakan kesejahteraan hewan di seluruh dunia, memobilisasi menjadi kekuatan global untuk mewujudkan suatu perubahan dalam mewujudkan kesejahteraan hewan tanpa memperhatikan kebangsaan, agama, keyakinan atau ideologi politik. Manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat dalam kehidupan. Kehidupan hewan tidak terlepas dari perilaku manusia, kehidupan manusia pun tak bisa terlepas dari kebutuhan adanya hewan. Manusia merupakan makhluk hidup, hewan pun juga makhluk hidup. Manusia memiliki hak untuk mendapatkan keadilan sosial, hal itu berarti hewan seharusnya juga mamiliki hak untuk mendapatkan kesejahteraan. Untuk itu dengan adanya World Animal Day diharapkan mampu menggerakkan semakin banyak orang untuk peduli terhadap hewan di sekitar kita.

Pada tahun ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (BEM FKH UGM)  ikut berpartisipasi dalam perayaan World Animal Day melalui kegiatan konser dan  kompetisi lomba esai. Konser yang digelar pada tanggal 8 Oktober 2016 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada merupakan konser perdana BEM FKH UGM dalam rangka perayaan World Animal Day. Konser yang mengusung tema “Sonus Animalis-Speak Up For Those Who Have No Voice” ini menghadirkan Gama Band, I’m Fine, Vet Accoustik, Cat Distamper, Vena Teatrica BPPM FKH UGM, Voca Veteriner, dan AATPSC (Aurette And The Polska Seeking Carnival) sebagai bintang tamu. Rangkaian acara dalam konser berjudul World Animal Resound Music Festifal (WARMFEST) ini termasuk diadakannya stand expo pada puku 16.00 WIB dari para pecinta hewan Jogja seperti Sugar Glider Club, Owl Club, Djamoesiti Musang, Jogja Free Flight, Pager, VSC, HSTP, KSSL, KSHK, dan ada juga stand konsultasi hewan gratis. Memasuki pukul 18.00 WIB, Voca Veteriner membuka konser dengan suara yang luar biasa dan konser ditutup dengan penampilan dari AATPSC dengan sangat meriah.

Di hari yang sama, Departemen Kajian Stategis BEM FKH UGM  juga mengadakan acara nasional yaitu National Animal Essay Competition (NAEC) 2016. Kegiatan yang mengusung tema “Sistem Kesehatan Hewan Nasional” ini merupakan kegiatan yang bertujuan menghimpun partisipasi dari seluruh mahasiswa Indonesia untuk menuangkan segala gagasan dan inovasi kreatif mereka mengenai Sistem Kesehatan Hewan Nasional. Kegiatan ini dirancang untuk seluruh mahasiswa dari segala bidang keilmuan, karena disadari semua bidang keilmuan akan menunjang dan menyempurnakan Sistem Kesehatan Hewan Nasional. Kegiatan ini telah berlangsung sejak tanggal 28 Juni 2016 dan diperoleh 10 mahasiswa/mahasiswi dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia berhasil maju ke tahap presentasi. Tahap presentasi diadakan pada tanggal 8 Oktober 2016 dengan 2 peserta dari Universitas Brawijaya, 1 peserta dari Institus Pertanian Bogor, 1 peserta dari Universitas Muhammadiyah Surakarta, dan 6 peserta dari Universitas Gadjah Mada. Presentasi dimulai pukul 08.00 WIB dan diperoleh dua pemenang yang diumumkan dalam konser WARMFEST.

Sebagai juara pertama  dengan hadiah sertifikat, piala, dan uang pembinaan sebesar Rp 1.000.000,- diraih oleh Trinita Sutikno Bronto dari Universitas Gadjah Mada dengan judul esai “Konservasi Satwa Liar dalam Membangun Sistem Kesehatan Hewan Nasional (SISKESWANNAS)” , sedangkan juara kedua dengan hadiah sertifikat, piala, dan uang pembinaan sebesar Rp 500.000,- diraih oleh Raden Mas Ravi Hadyan dari Universitas Gadjah Mada dengan judul esai “SCNT (Somatic Cell Nuclear Transfer) dan Modifikasinya sbagai Upaya Konservasi Satwa Liar Indonesia Terancam Punah di Masa Depan”.

Konser WARMFEST dan NAEC 2016 yang telah terlaksana tersebut merupakan kegiatan yang diadakan BEM FKH UGM dalam perayaaan World Animal Day. Harapan kami sebagai mahasiswa kedokteran hewan, dari terlaksananya kegiatan tersebut dapat memupuk kepedulian dan gagasan kreatif serta inofatif dari mahasiswa bahkan masyarakat Indonesia tetang kesejahteraan hewan, tetntang sistem kesehatan hewan, tentang integrasi segala bidang keilmuan, dan tentang pembangunan Indonesia.

Marilah kita pupuk kepedulian kita terhadap hewan. Bagian dari kehidupan manusia adalah hewan. Hewan sehat maka manusia akan sehat. Hewan sejahtera, maka manusia akan sejahtera. Kepunahan suatu hewan akan merugikan manusia karena memutus suatu rantai kehidupan yang pastinya dibutuhkan oleh manusia sendiri. Sejahterakan hewan, maka hidupmu akan sejahtera. Bila bukan kita, maka siapa lagi yang akan peduli ? Save Our Animal in The World.

Departemen Kajian Straegis
Kabinet Bersatu Melaju
BEM FKH UGM

KABAR OTOVETMU

Oleh: Annisa Maulida

Suatu kabar yang menggembirakan bagi para mahasiswa kedokteran hewan saat ini, khususnya mahasiswa kedokteran hewan Indonesia. Hal ini disebabkan karena, profesi dokter hewan dipercaya kembali untuk memegang jabatan sebagai eselon I pada lingkup Ditjen Peternakan Umum dan Kesehatan Hewan. Selama perkembangannya hingga saat ini,hanya ada 2 pejabat eselon I yang diduduki oleh seorang yang berprofesi sebagai dokter hewan yakni drh. Prabowo Respatiyo Caturroso,M.M.,Ph.D., sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian pertama pada 2010 dan disusul oleh Drh. I Ketut Diarmita, MP pada tahun 2016 .
Pada Senin, 11 Oktober 2016 Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman melantik Drh. I Ketut Diarmita, MP sebagai Pejabat Pimpinan Tinggi Madya (Pejabat Eselon I) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan 2016 di Gedung F Auditorium Kementerian Pertanian.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan merupakan organisasi Unit Eselon I lingkup Kementerian Pertanian yang sebelumnya bernama Direktorat Jenderal Peternakan. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian disebutkan bahwa Kementerian Pertanian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pertanian dalam pemerintahan yang dalam pelaksanaan tugasnya mencakup fungsi perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pertanian. Berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2016,RKP Tahun 2016 bertema “Mempercepat Pembangunan Infrastruktur untuk Memperkuat Fondasi Pembangunan yang Berkualitas”. Kebijakan Kementerian Pertanian tahun 2016, diantaranya adalah pencapaian program swasembada padi, jagung dan kedelai dan peningkatan produksi daging dan gula. Sejalan dengan itu, Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan pada tahun anggaran 2016, akan melaksanakan “Program Pemenuhan Pangan Asal Ternak dan Agribisnis Peternakan Rakyat”. Sehingga, pejabat eselon I lingkup Kementerian Pertanian memiliki tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan populasi dan produksi ternak serta kesehatan hewan.Pemegang eselon I yang berprofesi sebagai dokter hewan sangatlah penting karena, hal tersebut sesuai dengan otoritas veteriner.
Istilah “Veterinary Authority” menurut OIE Terrestrial Animal Health Code diterjemahkan menjadi “Otoritas Veteriner”. Definisi “Otoritas Veteriner” (Veterinary Authority) menurut OIE adalah kewenangan pemerintah suatu negara, terdiri dari dokter hewan, tenaga profesional lainnya, dan tenaga menengah veteriner, yang bertanggung jawab dan berkompeten dalam menjamin atau mensupervisi pelaksanaan tindakan kesehatan dan kesejahteraan hewan, sertifikasi veteriner internasional, serta standar dan rekomendasi lainnya yang tertuang dalam OIE Terrestrial Code di seluruh wilayah negara. Namun, berdasarkan UU No. 18 Tahun 2009 definisi otoritas veteriner sangat berbeda dengan definisi OIE. Definisi tersebut adalah kelembagaan pemerintah dan/atau kelembagaan yang dibentuk pemerintah dalam pengambilan keputusan tertinggi yang bersifat teknis kesehatan hewan dengan melibatkan keprofesionalan dokter hewan dan dengan mengerahkan semua lini kemampuan profesi mulai dari mengindenfikasikan masalah, menentukan kebijakan, mengoordinasikan pelaksana kebijakan, sampai dengan mengendalikan teknis operasional di lapangan.
Kewenangan yang dimaksud dalam definisi OIE adalah kekuasaan yang dimiliki oleh suatu pihak berdasarkan peraturan perundangan atau berdasarkan ijin/lisensi yang diterbitkan oleh suatu badan pemerintah untuk melakukan suatu tindakan atau kegiatan. Dalam hal ini pihak yang dimaksud adalah orang yang menjabat sebagai pimpinan suatu lembaga pemerintah yang diberi kekuasaan untuk melakukan suatu tindakan atau kegiatan berdasarkan tanggung jawab dan kompetensinya. Namun, berdasarkan UU No.18 Tahun 2009 yang dimaksudkan kelembagaan adalah suatu organisasi yang dibentuk berdasarkan peraturan perundangan, bisa merujuk kepada lembaga pemerintah yang sudah ada atau lembaga baru yang dibentuk pemerintah. Dengan definisi ini, berarti setiap orang yang termasuk dalam lembaga tersebut memiliki kewenangan untuk melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bukan berdasarkan tanggung jawab dan kompetensinya. Karena, dalam lingkup kementrian pertanian tidak semua pejabat berprofesi sebagai dokter hewan. Sedangkan, kewenangan medis hanya dimiliki oleh dokter dan dokter hewan. Kewenangan ini penting untuk memenuhi syarat dalam pelaksanaan kegiatan ekspor . Health certificate hewan harus diperiksa dan ditandatangani oleh dokter hewan yang memiliki kewenangan medis veteriner atau Otoritas Medis Veteriner. Selain hal tersebut, masih banyak hal yang hanya dapat dilakukan oleh dokter hewan.
Dengan dilantiknya Drh. I Ketut Diarmita, MP sebagai Pejabat Pimpinan Tinggi Madya (Pejabat Eselon I) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, maka adanya peluang untuk perhatian yang lebih terhadap otoritas veteriner di Indonesia. Untuk mencapai status kesehatan hewan yang optimal dan mampu memberikan perlindungan bagi kesehatan manusia, hewan dan lingkungan, sudah seharusnya pranata kesehatan hewan (VS) diarahkan dan dikendalikan secara utuh oleh otoritas veteriner. UU No. 18/2009 secara tegas menyatakan bahwa untuk penyelenggaraan kesehatan hewan di seluruh wilayah negara diperlukan otoritas veteriner. Maka, dari itu kami mengucapkan selamat kepada Drh. I Ketut Diarmita, MP , semoga dapat menjalankan tugasnya dengan lancar dan amanah. Viva veteriner!

Departemen Kajian Strategis
Kabinet Bersatu Melaju
BEM FKH UGM

Referensi:
http://ditjennak.pertanian.go.id/berita-737-menteri-pertanian-melantik–dirjen-peternakan-dan-kesehatan-hewan-yang-baru.html (diakses pada 20 Oktober 2016 pukul 23:15)
http://www.oie.int/ (diakses pada 21 Oktober 2016 pukul 02:17)
https://pdhijatim1.wordpress.com/2009/04/14/perlukah-direktur-jenderal-veteriner-di-indonesia/ (diakses pada 20 Oktober 2016 pukul 23:21)
Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan Tahun Anggaran 2016.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

PENGUMUMAN FINALIS NAEC 2016

congratulation-1

Pengumuman Grand Final National Animal Essay Cometition 2016

Kami ucapkan selamat kepada 10 besar peserta yang maju ke tahap
Grand Final National Animal Essay Competition 2016 ! Pada babak ini peserta akan melakukan presentasi essay di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada pada tanggal 8 Oktober pukul 09.30 WIB -selesai.

Berikut daftar peserta yang lolos ke tahap Grand Final :

  • Trinita Sutikno Bronto_UGM_Konservasi Satwa Liar dalam Membangun Sistem Kesehatan Hewan Nasional (Siskeswannas)
  • Reyvan Maulid Pradistya_UB­_Pusat Konservasi Gajah Sumatera sebagai Wahana Pendidikan dan Bonus Wisata Provinsi Lampung
  • Raden Mas Ravi Hadyan _UGM_SCNT (Somatic Cell Nuclear Transfer) dan Modifikasinya sebagai Upaya Konservasi Satwa Liar Indonesia Terancam Punah di Masa Depan
  • Alvian Azwar Anas_UGM_ Pulau Karantina Sebagai Solusi Jangka Pendek Pemenuhan Daging Sapi Yang Sehat dan Terjangkau
  • Fatah Nugroho_UGM_Konsep One Health, Sinergisitas Tiga Sektor Melawan Zoonosis dalam Rangka Membangun Sistem Kesehatan Hewan Nasional
  • Dede Irwan_IPB_“ Karvet Meat Bovine “ ( Karantina Veterinary Daging Sapi Import) Sebagai Upaya Meningkatkan Sistem Kesehatan Hewan Nasional dalam Mewujudkan Pembangunan Di Indonesia
  • Avivah Vega Meidienna_UGM_Kajian Wacana Impor Ternak dan Produk Olahannya
  • Amira Rifdatari _UB_ Kesiagaan Darurat (Emergency Preparedness Plan) Sebagai Langkah Antisipatif Pencegahan Penyebaran Penyakit Hewan dalam Perdagangan Internasional
  • Nur Fatmah_UMS_Buka Peta Hutan Indonesia, Selamatkan Habitat Harimau Sumatera
  • Dendy Raditya Atmosuwito_UGM_Animalia Ius Cosmopoliticum

Demikian pengumuman hasil selksi naskah esai dalam National Animal Essay Competition 2016. Selamat kepada peserta yang lolos dan kami ucapkan terima kasih kepada semua peserta yang mengirimkan esai dalam kegiatan ini

Download Peraturan Grand Final 

Zoonosis Campaign : Sebuah Aksi Menyerukan Pentingnya Pemberantasan Zoonosis Bagi Kehidupan Manusia

gopr4303

 

Ketika semakin banyak orang terdiam akan hal kecil yang suatu saat dapat menjadi ancaman bagi kehidupan bersama. Apalagi yang bisa dilakukan selain mulai menyuarakan dengan lantang. Mungkin memang tak berpengaruh besar, namun apa salahnya memulai dari hal kecil untuk sebuah kebaikan. Terkadang, teriakan atau sebuah aksi turun kejalan menjadi hal yang dirasa tiada guna lagi. Sebuah proses yang alami, ketika akan ada waktunya yang diam akan berteriak dan pada akhirnya semua akan menyadari pentingnya bersatu melawan hal yang mulai meresahkan. Akan menjadi sebuah sejarah besar, dari sebuah langkah yang kecil. Dan akan ada manfaat yang besar, dari butiran-butiran semangat perjuangan dari hal yang sedikit.

Sebuah kampanye biasa, yang kembali tergugah atas kegelisahan bersama. Terkait zoonosis yang kian semakin muncul dan ancaman yang akan datang nantinya. Bukan hanya karena wabah yang mungkin akan muncul, tapi keresahan atas pelaksanaan pemberantasan zoonosis yang kian mengganggu sistem kesehatan hewan nasional. Pemberantasan zoonosis di Indonesia dirasa semakin lemah, bahkan ketika dimunculkannya revisi atas perubahan Undang-undang Peternakan Kesehatan Hewan menjadi UU Nomor 41 Tahun 2014. Perubahan tersebut dirasa tidak memberikan penguatan kesehatan hewan terutama dalam lingkup zoonosis di Seluruh wilayah nusantara. Belum lagi kebijakan daerah dimana masih banyak otonomi daerah yang tidak memiliki kekuatan otoritas veteriner untuk kebijakan pemberantasan zoonosis. Jika semakin terus terjadi pelemahan kebijakan dalam pemberantasanya, menjadi hal yang mungkin jika suatu saat zoonosis menjadi ancaman yang besar bagi manusia. Tidak hanya merusak unsur kesehatan manusia, namun juga berimbasa pada lingkungan, sosial, bahkan ekonomi bangsa.

Pada bulan September tahun 2016, tepatnya hari Sabtu tanggal 10 kemarin. Telah kembali muncul kepermukaan, segelintir sosok pemuda-pemudi yang berusaha menyuarakan arti pentingnya pemahaman dan pemberantasan zoonosis di Indonesia. Khusus pada wilayah Yogyakarta, Kampanye Zoonosis yang dilaksanakan oleh puluhan mahasiswa FKH UGM berhasil kembali menyuarakan hal yang telah padam. Kampanye yang dimulai melalui media sosial dengan berbagai ajakan untuk mendukung kampanye ini, hingga berbagi poster melalui media yang berisi pemahaman tentang beberapa penyakit zoonosis. Selain itu, kampanye ini dilakukan di beberapa sekolah diantaranya adalah SMA N 10 Yogyakarta, SMA N 9 Yogyakarta, dan SMA N 1 Yogyakarta. Banyak atensi yang muncul dari siswa-siswi SMA yang dikunjungi. Kunjungan ke sekolah ini bertujuan untuk memberikan suatu pencerdasan kepada remaja akan pentingnya pemahaman suatu penyakit zoonosis. Banyak alasan kenapa zoonosis perlu dipahami banyak kalangan masyarakat. Karena 80 % penyakit pada manusia disebabkan oleh penyakit zoonosis yang sesekali dapat menjadi wabah yang besar. Dengan adanya pencerdasan wawasan ke kalangan remaja, nantinya pemberantasan zoonosis dari mulai pencegahan sejak dini dapat terwujud. Karena pencegahan selalu lebih baik dari pada mengobati.

Dilanjutkan dengan kampanye langsung kepada masyarakat yang dimulai sekitar pada pukul 16.00 WIB, kampanye ini melaksanan Long march dari Lapangan parker Abu Bakar Ali untuk melintas di sepanjang Jalan Malioboro hingga sampai di Nol Kilometer Yogyakarta. Saat melaksanakan Long March, kampanye ini sembari membagikan sebuah tulisan singkat mengenai beberapa penyakit zoonosis yang dekat dilingkungan masyarakat. Setelah sampai di Nol Kilometer, kampanye dilanjutkan dengan bernyanyi bersama dengan beberapa lagu dengan iringan pemain musik untuk mencairkan suasana. Banyak hal yang dapat menjadi sorotan, banyak hal yang terus disuarakan melalui tulisan-tulisan dari poster ataupun melalui seruan bersama. Banyak dilakukan orasi dari beberapa perwakilan mahasiswa FKH UGM untuk menyuarakan pentingnya pemberantasan zoonosis. Kemudian dilanjutkan dengan secara simbolik menyanyikan lagu Heal The World sembari menuliskan petisi dalam sebuah bentangan kain putih. Kampanye ini berakhir pada pukul 18.00 WIB dengan penuh makna kebersamaan dan berlangsung dengan aman dan tertib.

Banyak harapan yang ingin terwujud dari diadakannya kampanye ini selain banyak hal yang telah disampaikan diatas. Kampanye ini bukanlah sekedar teriakan omong kosong, namun adalah sebuah langkah awal atas komitmen bersama untuk semakin peduli terhadap kondisi pemberantasan zoonosis di Indonesia. Lebih peduli dan lebih berani bertindak atas hal yang mungkin terjadi hingga menimbulkan keresahan. Menjadi sebuah energi awal, untuk memperkuat sistem kesehatan hewan nasional dari unsur mahasiswa dan masyarkat dalam lingkup pemahaman dasar. Kuatnya sistem kesehatan hewan nasional bukan hanya dari kuatnya pelaksanaan pemberantasan zoonosis, tapi juga dari kuatnya pemahaman seluruh kalangan masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan dari zoonosis. Menjaga kesejahteraan hewan untuk kesehatan hewan adalah hal yang sangat penting dalam menjaga lingkungan dari kemunculan zoonosis. Kepedulian menjadi sebuah perisai dalam penyebaran wabah yang mungkin dapat terjadi.

Mari terus peduli dan bertindak dari mulai hal kecil untuk memberikan manfaat. Semangat akan selalu mengiringi dalam setiap perjuangan penuh keringat. Tidak ada hal yang sia-sia, jika semua memang dimulai dengan doa. Sebuah harapan besar, pastinya terwujud dengan langkah yang besar. Maka teruslah kita satukan langkah, untuk menjaga masalah tidak terlanjut basah. Semoga Zoonosis Campaign 2016 yang dilaksanan rekan-rekan Mahasiswa FKH UGM, dapat menjadi motivasi sebuah semangat perjuangan profesi. Dan nantinya, kegiatan kampanye ini akan berkembang menjadi Social Project yang lebih besar manfaatnya dikemudian hari. Semoga Tuhan selalu meridhoi langkah kebaikan bersama.

 

 

Yogyakarta, 11 September 2016

BEM FKH UGM

Kabinet “Bersatu Melaju”

 

 

NATIONAL ANIMAL ESSAY COMPETITION (NAEC) 2016

BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA FKH UGM (1)
A. Latar Belakang
Sudah diketahui bahwa Indonesia merupakan negara berkembang, sehingga sudah sewajarnya apabila pembangunan selalu digalakkan dari tahun ke tahun. Mulai dari pembangunan dibidang pendidikan, pembangunan ekonomi, pembangunan dibidang pertanian, dsb. Melihat pembangunan yang semakin digalakkan, kami Departemen Kajian Stategis Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada ingin membangkitkan semangat mahasiswa Indonesia untuk megkritisi, berkreasi dan berinovasi membangun dan mengokohkan Sistem Kesehatan Hewan Nasional dari berbagai sudut pandang keilmuan. Harapannya dengan kuatnya Sistem Kesehatan Hewan Nasional akan mengokohkan dan memperkuat pembangunan Indonesia. Hal tersebutlah yang melatar belakangi tergagasnya National Animal Essay Competition 2016.

B. Nama, Tema, dan Diskripsi Kegiatan
Nama kegiatan : “National Animal Essay Competition 2016
Tema : “Pembangunan Indonesia melalui Sistem Kesehatan Hewan Nasional
Sub-tema :
a. Politik dan Kebijakan Pemerintah
b. Industri dan Perekonomian
c. Teknologi dan Animal Science
d. Sistem Konservasi dan Karantina
e. dll
National Animal Essay Competition (NAEC) merupakan lomba menulis essay tingkat nasional yang diperuntukkan bagi mahasiswa S1/D3/D4 yang diselenggarakan oleh Departemen Kajian Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.

C. Ketentuan Peserta
1. Peserta Esai Competition adalah mahasiswa/i aktif baik SI/D3/D4 yang berasal dari seluruh Universitas di Indonesia (di buktikan dengan Kartu Tanda Mahasiswa).
2. Peserta adalah perorangan.
3. Satu peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu karya.

Download Formulir Pendaftaran NAEC 2016 dan Buku Panduan NAEC 2016

D. Hadiah
Juara 1 : Uang Rp 1.000.000 + Sertifikat + Thropy
Juara 2 : Uang Rp 500.000 + Sertifikat + Thropy

[LEMBAR KABINET KE-38]

711405

Selamat malam. Hari ini BEM FKH UGM telah mengikuti Lokakarya BEM, LM, LEM, DEMA se Universitas Gadjah Mada di Ruang G-100, Fakultas Psikologi UGM.

Bersama BEM KM UGM, BEM/LM/LEM/dan DEMA fakultas lain, saling memaparkan visi misi, struktur kabinet, serta isu yang diangkat selama setahun kedepan.

Acara lokakarya ini pun diakhiri dengan pembacaan Deklarasi Sinergi oleh PRESMA BEM KM UGM, serta semua ketua/pimpinan BEM/LEM/LM dan Dema Fakultas se-UGM dan dilanjutkan penandatanganan deklarasi tersebut.

Semoga BEM FKH UGM dapat turut aktif, berkontribusi dan bersinergi dalam memajukan UGM!
Hidup Mahasiswa Indonesia!

Kabinet Bersatu Melaju
BEM FKH UGM